![]() |
| Add caption |
Adalah Elang Gumilang , wirausaha yang sukses membangun bisnis perumahan bertipe 22/60. Tangan dinginnya menelurkan apa yang selama ini jarang dilakukan pengembang kawakan untuk menciptakan perumahan khusus orang miskin.
Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada, namun bergaya hidup bersahaja. Jiwa wirausaha Elang mulai terasah saat ia duduk dibangku kelas 3 SMU. Ia mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta untuk modal kuliah. Tanpa sepengetahuan orang tuanya ia berjualan donat keliling sekolah-sekolah dasar di Bogor. Namun akhirnya orang tuanya tahu juga, Elang disuruh berjualan karena UAN.
Dilarang berjualan donat tak lantas membuatnya berhenti mencari cara untuk mendapatkan uang. Pada 2003, ketika IPB mengadakan lomba Java Economic Competition se-Jawa, Elang mengikutinya dan berhasil memenanginya. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyelenggarakan kompetisi ekonomi, Elang mendapatkan juara tiga. Hadiah uang yang di dapatkannya dikumpulkan untuk modal kuliah.
Setelah lulus SMA elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB. Saat itulah dengan bermodalkan uang satu juta rupiah ia berniat memiliki bisnis usaha. Awalnya uang itu ia belikan sepatu, yang lantas dijual ke asrama mahasiswa IPB. Dalam waktu sebulan ia bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Sayang setelah berjalan beberapa tahun supplier yang digunakannya menurunkan kualitas sepatu, bisnis itu pun sirna.
Ia melihat lampu-lampu redup dikampus IPB sebagai sebuah peluang bisnis pengadaan lampu. Elang mencoba menerapkan strategi bisnis tanpa modal. Bermodal surat dari kampus ia melobi perusahaan lampu Philips untuk menyetok lampu ke kampusnya. Setiap penjualan ia bisa mengantongi Rp 15 juta. Namun karena bisnis ini bersifat musiman dan perputaran uang lambat, ia berpikir mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke warung -warung. Tapi karena bisnis ini 80% menggunakan otot ia lalu berhenti berjualan.
"Setelah menyadari apa kekurangan saya,saya sholat istiqarah. Setelah sholat istiqarah saya bermimpi melihat bangunan-bangunan di Manhattan City. Setelah bertanya kepada orang yang di dalam mimpi : itu siapa yang membangun ? kata orang didalam mimpi : itu kan Anda sendiri". begitu ia bercerita.
Ilham dari Atas diperolehnya, bisnis propertilah yang ditunjukan Tuhan untuknya. Ia membeli sepetak tanah dan membangun rumah pertamanya. Modal diperoleh dari teman semasa SMA maupun kuliah. Rumah sederhana berukuran 22 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi itu langsung berpindah tangan ketika dibangun. Terbukti, orang haus akan rumah murah seharga 25-37 juta rupiah.
Saat itu, jumlah pekerja Elang baru sekitar tujuh orang untuk mengurusi administrasi hingga pemasaran. Namun lambat laun bisnisnya ini berkembang. Dari satu unit bertambah menjadi tiga unit, bertambah terus sampai lebih dari 200 an rumah dibangunnya. Nilai jual objek pajak ( NJOP ) tanah yang tadinya hanya Rp 50 ribu misalnya, kini melejit hingga lima kali lipat dalam dua semester.
Omzet pertahunnya pasti bikin pengusaha manapu berdecak kagum, karena tak kurang dari Rp 20 miliar per tahun dapat ia bukukan. Belum lagi dari kontrak pre periodik terbarunya menambah Rp 80 miliar sampai Rp 100 miliar ke bisnisnya. Namun ia tak puas sampai disitu, target yang dicanangkannya tak tanggung-tanggung. Perusahan Semesta Guna Grup miliknya ingin membangun 2000 unit rumah sedrhana. Dan juga ia bercita - cita mendirikan perusahaan yang mempekerjakan 100 ribu orang.

